![]() |
| Foto Dokumentasi Google |
“Apakah anak-anak banyak meminta atau memberi?!” Tanya sang trainer memecah suasana pagi itu.
“Memintaaaa!!!!” sontak hampir semua peserta seminar menjawab dengan jawaban yang sama.
Dan trainer tersebut pun kembali mengulang pertanyaannya, dan lagi-lagi hampir secara serempak para orang tua memberikan jawaban yang sama. Kemudian sang trainer maju sedikit dan lebih dekat dengan barisan para ibu. Dia pun bertanya kepada para ummahat siapakah diantaranya sudah mempunyai lima orang anak. Tampak seorang ibu dengan jilbab hijau muda bangun dan mengacungkan tangan. Atas permintaan trainer, ibu tersebut pun maju kedepan arena. Dan kemudian…
“maaf, apa benar anak Ibu berjumlah lima orang?” Tanya pak trainer saat itu.
“iya pak, Alhamdulillah anak saya sudah lima”.
“baik, kalau begitu, saat ibu baru memiliki anak pertama Ibu sudah punya apa?” pak trainer bertanya secara spontan.
“saat itu pak saya masih alakadarnya saja, maklum masih diawal-awal pernikahan” jawab si Ibu agak malu-malu
“terus saat sudah memiliki anak kedua dan ketiga Ibu sudah punya rumah sendiri?” lagi lagi pertanyaan menyelidik itu pun hadir
Kemudian si Ibu kembali menjawab, “belum juga pak, tapi Alhamdulillah saat itu saya sudah menpunyai usaha tetap dan satu buah mobil”
Pak trainer pun tersenyum sambil berkata, “wah, Alhamdulillah ya, jadi sekarang saat anak ibu sudah lima orang, bagaimana?”
“Alhamdulillah pak sekarang saya sudah punya rumah sendiri”, jelas si Ibu.
“Alhamdulillah…”. Kemudian sang trainer mempersilahkan Ibu tersebut untuk duduk dan beliau pun kembali menghadap kepada peserta. Dan lagi-lagi dia bertanya. “jadi bapak dan Ibu semua, anak-anak banyak meminta atau memberi?”
Tidak seperti sebelumnya saat itu tidak langsung ada jawaban dari peserta. Para orang tua saat itu seperti sibuk dengan fikirannya masing-masing. Mereka mulai menelaah dan mencari-cari jawabannya. Beberapa dari orang tua sudah mulai agak ragu-ragu dan sebagian lainnya sudah mantap dengan jawaban yang baru. Hingga akhirnya secara sayup-sayup mulai terdengar, “memberi….!”, akhirnya para orang tua memberi keputusan.
Demi mendengar para jawaban orang tua peserta saat itu, sang trainer maju dan berjalan kearah tempat para peserta, yaitu para orang tua dari anak-anak, menatap mereka satu persatu kemudian berkata dengan suara alfa, “benar sekali ibu dan bapak sekalian, anak-anak lebih banyak memberi daripada meminta, hal tersebut juga seiring bahwa bukan anak-anak yang tampak semakin nakal, tapi orangtua yang semakin tidak sabaran. Tapi terkadang, orang tua tidak focus pada sisi ini, sisi yang terlihat adalah kenakalannya, ketidakaturannya, dan segala kenegatifannya.
Jika setiap orang tua ditanya, apakah mereka mencintai anak-anaknya? Tentu saja tidak akan ada kata “tidak”. Namun, dalam praktik kehidupan, paradigma cinta ini terkadang mengalami kekeliruan. Cinta berarti menginginkan anaknya sesuai kehendaknya. Cinta bermakna menjadikan anak meninggalkan fitrahnya, bahkan cinta menjadikan anak kehilangan kemandiriannya.

1 komentar
Jadi bener ya kak kata orang jawa, "banyak anak banyak rezeki"?
BalasHapus