Life of Muslim in Germany (LMG) dan Saatnya Menjadi Intelektual Muda Muslim Indonesia

by - Senin, April 09, 2018


Hallo teman-teman calon peserta LMG semua, masih pada semangatkah untuk seleksi tahun ini. perkenalkan saya Siti, salah satu dari 14 alumni perdana program LMG 2017. Nah, mengingat banyaknya DM (Direct Message) dari beberapa teman-teman yang sedang mempersiapkan seleksi ini, saya mencoba berbagi sama teman-teman sekalian segala persiapan dan hal apa saja yang saya lakukan di tahun 2017. Nah, sebelum kita rangkum persiapannya, kita berdoa dulu ya, semoga teman-teman yang bersungguh-sungguh untuk mengikuti program ini, Allah perkenankan jalan melihat bumiNya yang lebih luas melalui program ini. cekidot J
Dalam tulisan kali ini, saya tidak akan berbicara banyak mengenai apa itu program LMG. Bagi saya, ketika teman-teman berazzam untuk mengikuti program ini, maka sudah pasti teman-teman mengenal dengan baik program ini dan mencari segala informasi yang berhubungan dengan program ini. So, yang pertama dan yang paling utama adalah Baca Baca dan Baca. Lebih lanjut lagi, teman-teman bisa mendapatkan informasi seputar program dan apa saja kegiatan yang dilakukan selama program di website www.goethe.de. Di website ini banyak tulisan mengenai kegiatan LMG tahun 2017 lalu. Kemudian, sebagai calon peserta, setelah membaca informasi seleksi, segera fokus pada persyaratan yang diminta. Untuk program LMG sendiri ada beberapa kriteria peserta yang menarik; master atau doctoral student, journalist, dan anggota organisasi Islam. Dengan mengetahui syarat peserta ini, kita akan tahu kekuatan kita sendiri dan apakah yang akan kita jelaskan nantinya saat di motivation letter. Saat tahun 2017 lalu, saya sendiri berperan sebagai seorang Radio Journalist. Saya merupakan seorang penyiar dan produser program di Radio Seulaweut 91 FM (salah satu radio Islami yang ada di Banda aceh). Oleh karena itu, setiap penjelasan dalam motivation letter tidak akan jauh-jauh dari peran saya ini. kemudian, karena program ini merupakan bentuk program Muslim Exchange, sudah pasti para reviewer berharap kita (para calon peserta) merupakan seseorang yang dekat dengan tema-tema dan dialog keislaman. Jadi, bagi teman-teman yang pernah menulis atau mempresentasikan topik seputar Islam maka akan punya poin plus. Jelaskan poin plus teman-teman ini dengan detail. Kemudian, Be honest, ini adalah satu kunci terbaik dalam setiap seleksi. Artinya, setiap apapun yang teman-teman tuliskan dalam aplikasi harus sejujur dan sebaik mungkin. Kenapa? Karena saat kita tidak jujur, maka akan kerepotan sendiri nantinya saat wawancara (yaah.. selain karena berbohong itu juga dosa kan). Selain jujur, juga harus sebaik mungkin. Poin “baik” yang saya maksud disini adalah semenarik mungkin. Gunakan pilihan bahasa-bahasa yang menjual dan berusahalah se diplomatis mungkin. Dengan begitu, para reviewer akan membaca aplikasi teman-teman diantara begitu banyaknya aplikasi yang masuk ke panitia. Be different, saya ingat salah satu proverb yang mengatakan “different is not always the best, but the best is always different”. Jadi, teman-teman bisa fokus mencari perbedaan tersebut. Kenapa para reviewer harus memilih temen-teman diantara banyaknya peserta lainnya. Contohnya, teman-teman adalah seorang journalist, namun diantara ramainya para journalist, temen-temen bertanggung jawab ataupun menulis topik tertentu seputar dialog keislaman yang masih jarang disentuh orang lain. Nah, perbedaan inilah yang dimaksud sebagai jalan kekuatan. Coba cari kembali kekuatan yang bisa teman-teman tonjolkan baik di motivation letter dan CV nantinya. dan yang terakhir untuk sesi ini adalah recommendation letter. Referee adalah salah satu orang yang mampu menjelaskan kekuatan dan perbedaan kamu dari peserta lain. Tahun lalu, referee saya merupakan ex-manager saya saat di berada di radio. Mungkin pertanyaannya, kenapa harus ex-manager saya? Kenapa bukan manager saya yang saat ini menjabat? Jadi ceritanya, ex-manager saya ini merupakan alumni Jerman. Beliau menyelesaikan studinya di Jerman, dari sini saya melihat kekuatan yang baik dimana beliau bisa menjelaskan saya sebagai seseorang yang beliau kenal, dan juga pandangan beliau tentang saya yang ikut program ke Jerman sebagai seseorang yang pernah tinggal di negara tersebut. Untuk referee ini sendiri tidaklah harus seseorang yang pernah ke Jerman, namun poinnya adalah bagaimana referee ini punya benang merah yang kuat sehingga mampu menjelaskan bahwa kamu adalah the best candidat for this program. the last but not least adalah doa. Saya pun tahun lalu tidak pernah menyangka bahwa saya sendiri akan menjadi salah seorang peserta untuk program ini, namun saya terus meminta kepada Allah untuk memberikan yang terbaik. Jika program ini merupakan salah satu jalan saya melihat dan bersyukur bumiNya yang lebih luas, maka saya meminta untuk dipermudahkan. Namun jika tidak, tentu saja akan ada banyak cara lain dari Allah untuk menghadihkan perjalanan-perjalanan terbaik dan penuh berkah untuk kita. Finally, bagi teman-teman yang sedang berjuang untuk program ini selamat berusaha dan jadilah salah satu bagian dari Intelektual Muda Muslim Indonesia.

Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi email sitirizky.smr@gmail.com atau melalui instagram @sitimauliarizky



You May Also Like

2 komentar

  1. Suka baca tulisan dek sit, membaca tulisan ini seperti dek sit menceritakan secara langsung pada kk. Langsung terbayangkan mimik dan intonasi dek sit saat bercerita. Terus menulis dek sit. ❤

    BalasHapus

Instagram