Life of Muslim in Germany (LMG) dan Saatnya Menjadi Intelektual Muda Muslim Indonesia
Hallo teman-teman calon
peserta LMG semua, masih pada semangatkah untuk seleksi tahun ini. perkenalkan
saya Siti, salah satu dari 14 alumni perdana program LMG 2017. Nah, mengingat
banyaknya DM (Direct Message) dari beberapa teman-teman yang sedang
mempersiapkan seleksi ini, saya mencoba berbagi sama teman-teman sekalian
segala persiapan dan hal apa saja yang saya lakukan di tahun 2017. Nah, sebelum
kita rangkum persiapannya, kita berdoa dulu ya, semoga teman-teman yang
bersungguh-sungguh untuk mengikuti program ini, Allah perkenankan jalan melihat
bumiNya yang lebih luas melalui program ini. cekidot J
Dalam tulisan kali ini, saya
tidak akan berbicara banyak mengenai apa itu program LMG. Bagi saya, ketika
teman-teman berazzam untuk mengikuti
program ini, maka sudah pasti teman-teman mengenal dengan baik program ini dan
mencari segala informasi yang berhubungan dengan program ini. So, yang pertama
dan yang paling utama adalah Baca Baca
dan Baca. Lebih lanjut lagi, teman-teman bisa mendapatkan
informasi seputar program dan apa saja kegiatan yang dilakukan selama program
di website www.goethe.de. Di
website ini banyak tulisan mengenai kegiatan LMG tahun 2017 lalu. Kemudian, sebagai calon peserta, setelah
membaca informasi seleksi, segera fokus
pada persyaratan yang diminta. Untuk program LMG sendiri ada beberapa
kriteria peserta yang menarik; master atau doctoral student, journalist, dan
anggota organisasi Islam. Dengan mengetahui syarat peserta ini, kita akan tahu
kekuatan kita sendiri dan apakah yang akan kita jelaskan nantinya saat di
motivation letter. Saat tahun 2017 lalu, saya sendiri berperan sebagai seorang
Radio Journalist. Saya merupakan seorang penyiar dan produser program di Radio
Seulaweut 91 FM (salah satu radio Islami yang ada di Banda aceh). Oleh karena
itu, setiap penjelasan dalam motivation letter tidak akan jauh-jauh dari peran
saya ini. kemudian, karena program ini merupakan bentuk program Muslim
Exchange, sudah pasti para reviewer berharap kita (para calon peserta) merupakan
seseorang yang dekat dengan tema-tema dan dialog keislaman. Jadi, bagi
teman-teman yang pernah menulis atau mempresentasikan topik seputar Islam maka
akan punya poin plus. Jelaskan poin plus teman-teman ini dengan detail.
Kemudian, Be honest, ini adalah satu
kunci terbaik dalam setiap seleksi. Artinya, setiap apapun yang teman-teman
tuliskan dalam aplikasi harus sejujur dan sebaik mungkin. Kenapa? Karena saat
kita tidak jujur, maka akan kerepotan sendiri nantinya saat wawancara (yaah..
selain karena berbohong itu juga dosa kan). Selain jujur, juga harus sebaik
mungkin. Poin “baik” yang saya maksud disini adalah semenarik mungkin. Gunakan
pilihan bahasa-bahasa yang menjual
dan berusahalah se diplomatis mungkin. Dengan begitu, para reviewer akan
membaca aplikasi teman-teman diantara begitu banyaknya aplikasi yang masuk ke
panitia. Be different, saya ingat
salah satu proverb yang mengatakan “different is not always the best, but the
best is always different”. Jadi, teman-teman bisa fokus mencari perbedaan tersebut.
Kenapa para reviewer harus memilih temen-teman diantara banyaknya peserta
lainnya. Contohnya, teman-teman adalah seorang journalist, namun diantara
ramainya para journalist, temen-temen bertanggung jawab ataupun menulis topik
tertentu seputar dialog keislaman yang masih jarang disentuh orang lain. Nah,
perbedaan inilah yang dimaksud sebagai jalan kekuatan. Coba cari kembali
kekuatan yang bisa teman-teman tonjolkan baik di motivation letter dan CV
nantinya. dan yang terakhir untuk sesi ini adalah recommendation letter. Referee adalah salah satu orang yang mampu
menjelaskan kekuatan dan perbedaan kamu dari peserta lain. Tahun lalu, referee
saya merupakan ex-manager saya saat di berada di radio. Mungkin pertanyaannya,
kenapa harus ex-manager saya? Kenapa bukan manager saya yang saat ini menjabat?
Jadi ceritanya, ex-manager saya ini merupakan alumni Jerman. Beliau
menyelesaikan studinya di Jerman, dari sini saya melihat kekuatan yang baik
dimana beliau bisa menjelaskan saya sebagai seseorang yang beliau kenal, dan
juga pandangan beliau tentang saya yang ikut program ke Jerman sebagai
seseorang yang pernah tinggal di negara tersebut. Untuk referee ini sendiri
tidaklah harus seseorang yang pernah ke Jerman, namun poinnya adalah bagaimana
referee ini punya benang merah yang kuat sehingga mampu menjelaskan bahwa kamu
adalah the best candidat for this
program. the last but not least
adalah doa. Saya pun tahun lalu
tidak pernah menyangka bahwa saya sendiri akan menjadi salah seorang peserta
untuk program ini, namun saya terus meminta kepada Allah untuk memberikan yang
terbaik. Jika program ini merupakan salah satu jalan saya melihat dan bersyukur
bumiNya yang lebih luas, maka saya meminta untuk dipermudahkan. Namun jika
tidak, tentu saja akan ada banyak cara lain dari Allah untuk menghadihkan
perjalanan-perjalanan terbaik dan penuh berkah untuk kita. Finally, bagi teman-teman yang sedang berjuang untuk program ini selamat berusaha dan jadilah salah satu bagian dari Intelektual Muda Muslim Indonesia.
Untuk pertanyaan lebih
lanjut dapat menghubungi email sitirizky.smr@gmail.com atau melalui instagram @sitimauliarizky
2 komentar
🙏
BalasHapusSuka baca tulisan dek sit, membaca tulisan ini seperti dek sit menceritakan secara langsung pada kk. Langsung terbayangkan mimik dan intonasi dek sit saat bercerita. Terus menulis dek sit. ❤
BalasHapus