Aku dan Kisah perjalanku

by - Minggu, Januari 28, 2018


Gambar dokumentasi google
Aku sendiri heran, entah sejak kapan aku mulai bahagia dengan sebuah perjalanan. Padahal, masih kental di ingatanku, seorang Siti yang aku kenal satu dekade silam adalah seorang anak yang lebih senang dalam kesendiriannya. Berjalan dan berbincang hanya dengan temannya saja, yang baginya akan mengerti dirinya. Saat itu, dia juga tak pernah menyukai hal baru. Baginya hidup adalah menjalani apa saja yang harus dikerjakan saja. Sekolah, berteman, dan aktifitas sehari-hari lainnya adalah lingkaran perputaran waktu yang terus dijalaninya tanpa berganti. Saat itu, tak banyak yang mengenalnya. Dia sering tak tampak di peredaran hingga hilang tanpa jejak. Ya, itulah yang aku ingat tentang dirinya.
Kemudian, beberapa tahun berlalu. Dia pun mulai pindah di tempat yang baru. Tempat yang tanpa disadarinya menjadi sebuah jalan untuk dirinya yang baru, bahkan tanpa disadari oleh dirinya sendiri. Sekolah ini bukan pertama kalinya dia berjauhan dengan orang tuanya. Menjadi santri pesantren sejak saat pertama masuk sekolah menengah, telah membuatnya akrab dengan rindu pada orang tua. Tapi berbeda dengan sebelumnya, sekolah yang baru ini memiliki jarak yang lebih jauh dari sebelumnya. Jarak yang membuat rindu itu menjadi berkali-kali lipat gandanya. Namun ada yang menarik dari jarak ini, melalui jarak ini menjadikannya sesosok gadis yang lebih kuat, lebih mandiri. Dia menjadi lebih terbuka kepada yang lainnya, dan percaya bahwa sejatinya banyak teman yang bisa dipercaya untuk mengerti dirinya, asalkan kita memberikan kesempatan padanya. Di sekolah ini pula pertama kalinya dia tahu bahagianya menjalani segala hal yang disuka. Sungguh, saat itu dia tak mengerti sama sekali itulah yang disebut dengan passion. Yang terpikirkan saat itu hanya "inilah yang aku suka, dan aku ingin melakukannya", itu saja. Bagian paling menarik yang dia ingat adalah, disana juga pertama kalinya seorang guru mengajarkannya menulis mimpi-mimpi. Bahwa sejatinya hidup bukan saja seperti air mengalir. Bahkan air mengalir pun tetap punya tujuan bukan?
Dan semangat yang ditularkan sang guru benar-benar merasuk ke hatinya dan mengijinkannya tidak sekedar menulis mimpinya, namun berazzam untuk mampu mewujudkan mimpi-mimpi itu. Terimakasih, Bu!

#onedayonepost
#ODOPbatch5

You May Also Like

5 komentar

  1. Nice kak, ceritanya mengalir dan sederhana. Kalo bisa antar paragraf di kasih enter kk, biar enak di pandang ajah 😊

    BalasHapus
  2. Nice kak, ceritanya mengalir dan sederhana. Kalo bisa antar paragraf di kasih enter kk, biar enak di pandang ajah 😊

    BalasHapus
  3. tulisannya ngalir, enak dibaca nih. blog nya jg dah cakep. keren lah..

    kalo boleh saran, tiap paragraf kasih jarak (enter) sekali biar liatnya tmbah betah :D

    BalasHapus
  4. Wah... terimakasih masukannya kang dwi dan mba dika. Siip akan coba disunting nih😄

    BalasHapus
  5. Mantap...
    Jadi teringat guruku juga yang bilang kayak gitu..

    BalasHapus

Instagram