Secercah Semangat dari Jejak Tsunami
Ayu dan Fathia mengemasi bahan belajar milik mereka. Tidak ada barang-barang luar biasa yang akan kita temukan disana. Hanya sebuah buku tulis usang dan sebatang pensil. Mereka memang berbeda dengan anak-anak lainnya yang sering kita temukan di perkotaan. Akan tetapi dengan hangat mereka dan teman-temannya tetap mengikuti kegiatan belajar, berharap dengan semangat yang mereka punya mereka tetap bisa mencapai kesuksesan nantinya.
Ayu dan Fathia merupakan salah satu potret keadaan anak-anak yang berada pada salah satu desa terparah yang diterjang tsunami pada 26 Desember 2004, sepuluh tahun silam. Mereka adalah sosok anak-anak penuh semangat dalam belajar walaupun ditengah keadaan yang serba terbatas. Kita tidak usah bertanya kepada mereka tentang dunia digital yang sedang dekat dengan anak-anak diperkotaan saat ini, apalagi aplikasi-aplikasi edukatif untuk anak yang terdapat pada gadget. Demi melihat sebuah laptop saja, mereka akan saling dorong mendorong dan berebutan untuk melihat betapa canggihnya barang tersebut.
Jika teman-teman mengenal mereka, saya yakin kalian pasti akan salut dengan ketegaran dan semangat mereka. Pernah suatu ketika, Mereka bercerita bahwa mereka pernah harus berbagi kelas dengan adik kelas karena jumlahnya yang tidak mencukupi. Saat itu saya sangat sedih mendengar cerita mereka. Tapi, apakah mereka sedih? Tidak, tidak sama sekali. Bahkan dengan sumringahnya mereka menjawab “berbagi kelas itu ada enaknya kak, kami bisa sekolah siang. Jadi pas pagi nya kami bisa bantu ibu dulu dirumah”. Ah, betapa naifnya mereka, dan lagi-lagi saya dibuat malu oleh mereka.
Ayu dan Fathia, walaupun mereka tidak mempunyai banyak kemewahan yang banyak meliputi kehidupan anak-anak lainnya. Walaupun bekas jejak Tsunami masih terus terasa dalam kehidupan mereka. Mereka tetap dengan semangat menjalani hari-hari dengan hangat. Karena, pada dasarnya, banyak hal didunia ini yang penuh dengan perbedaan, seperti keadaan Ayu dan teman-temannya. Namun yang menjadi perhatian kita bukanlah memerangi setiap perbedaan, akan tetapi memeluk dan mendekap setiap perbedaan hingga menjadi hangat untuk dijalankan.
#onedayonepost
#ODOPbatch5
0 komentar