All Is (not) Well
"Rendi, BANGUN!!", Jerit Ibu pagi itu disampingku.
Ini bukan pertama kalinya memang Ibu menjerit seperti itu kepadaku. Bahkan jujur, untuk pagi ini saja itu merupakan jeritan yang kesekian kalinya.
Bagiku, segera bangun di pagi senin bukanlah perkara mudah. Bayangan keindahan akhir minggu yang aku lewati masih membekas hingga di mimpiku malam tadi. Dengan mata setengah terbuka, aku pun memaksakan diri menuju kamar mandi. Pada dasarnya ini bukan karena aku benar-benar ingin bangun dan segera ke sekolah. Tapi ini merupakan sebuah aksi untuk menghindari jeritan Ibu yang nadanya akan terus naik satu oktaf jika aku tidak segera beranjak dari tempat tidur.
Setelah sepuluh menit meninggalkan tempat tidur, aku pun telah selesai mandi, berpakaian, bahkan sarapan, ajaib bukan? Diantara segala bentuk kekurangan yang dimiliki, ini adalah salah satu kelebihanku yang patut dibanggakan. Sepuluh menit yang begitu luar biasa. Sepuluh menit inilah yang kemudian mengantarkan aku sebagai murid yang tak pernah terlambat sekolah, walaupun tak pernah bangun cepat.
Dan seperti biasa, dengan langkah sombong aku pun segera menuju ke sekolah. Aku yakin, seperti biasanya, aku akan sampai di sekolah tepat waktu. Lebih penting lagi, berbagai pekerjaan rumah pengisi akhir minggu dari pak Adi pun telah kuselesaikan dengan baik, tentu saja dengan mencontek dari Bagas saat Sabtu lalu aku ke rumahnya.
Dengan langkah tegas aku pun melewati lorong-lorong kelas. "All is well all is well", dendangku dengan riang.
Saat hampir menuju kelas, kudengar kelasku lebih gaduh dari biasanya. Tidak seperti biasanya, kelasku yg damai ini penuh suara-suara berisik. Akhirnya, saat langkahku sampai di pintu kelas, lututku pun melemah. Seluruh sendi-sendi seakan luruh dari tempatnya. Tiba-tiba seorang teman menepuk pundakku dengan keras, "Ren, layang-layang kamu mana? Kamu gak lupa kan tugas IPS pak Deri?
Seketika ingatanku terbang pada minggu lalu saat pak deri memberikan tugas tersebut, dan saat itu jiga bagian yang paling aku ingat adalah, "Bagi yang tidak membawa layang-layangnya akan saya hukum dibawah terik matahari!"
"Ibu, Ayah, hilang sudah keindahan hari senin anakmu ini!", batinku dengan sedih.
0 komentar